{"id":505,"date":"2022-01-31T08:38:18","date_gmt":"2022-01-31T08:38:18","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp26112024\/2022\/01\/31\/celah-bibir-dan-langit-langit-pada-anak\/"},"modified":"2025-03-12T10:28:41","modified_gmt":"2025-03-12T03:28:41","slug":"celah-bibir-dan-langit-langit-pada-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/artikel-kesehatan\/celah-bibir-dan-langit-langit-pada-anak\/","title":{"rendered":"Cleft Lip and Palate in Childrens"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa itu Celah Bibir dan Langit-langit?<\/h2>\n\n\n\n<p>Celah bibir dan langit-langit adalah kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah pada bibir.\u00a0Celah tersebut bisa muncul di tengah, kanan, atau bagian kiri bibir. Celah bibir dan langit-langit sering kali disertai dengan munculnya celah di langit-langit mulut yang sering disebut dengan langit sumbing.\u00a0Celah bibir dan langit-langit terjadi karena tidak sempurnanya penyatuan jaringan di bibir atau di langit-langit mulut janin, sehingga terbentuk celah. Normalnya, proses penyatuan tersebut terjadi pada trimester pertama kehamilan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata celah lebih nyaman terdengar walaupun kita tidak mempunyai istilah dalam bahasa, tetapi dari tahun 1995 tidak lagi menyebut dengan bibir sumbing, namun dengan sebutan celah bibir dan langit-langit atau dalam bahasa inggris disebut <em>cleft lip and palate<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika melihat tren saat ini, tentunya juga kita dapat melihat bahwa kecantikan atau upaya yang terjadi ada beberapa faktor, salah satunya penyakit yang diderita oleh seseorang yang tentunya akan berpengaruh pada tumbuh kembang kedepannya yaitu celah bibir dan langit-langit pada anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut penjelasan <a href=\"https:\/\/jadwal.perpustakaan.rsabhk.co.id\" title=\"\">drg. Muhammad Syafrudin Hak, Sp.BM(K), MPH, Ph.D<\/a> dalam siaran <em>live<\/em> dengan radio kesehatan, Kamis (13\/1\/2022) \u201ccelah bibir dan langit-langit terjadi sejak lahir dan baru bisa dioperasi atau dikoreksi pada tahun atau pada umur yang sudah lebih besar. Sebenarnya<em> threatment<\/em> protokolnya adalah kondisi ini bisa dikoreksi pada saat bibir pada usia 3 bulan kemudian langit langit dengan penelitian yang cukup mendalam pada usia 1 tahun setengah, jadi celah bibir ini merupakan suatu problem Kesehatan di seluruh dunia dan mempunyai masalah yang cukup besar\u201d.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"2000\" height=\"1638\" src=\"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/celah-bibir-langit-langit-1.webp\" alt=\"Celah Bibir dan Langit-langit\" class=\"wp-image-11002\" style=\"aspect-ratio:4\/3;object-fit:cover\" srcset=\"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/celah-bibir-langit-langit-1.webp 2000w, https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/celah-bibir-langit-langit-1-768x629.webp 768w, https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/celah-bibir-langit-langit-1-1536x1258.webp 1536w, https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/celah-bibir-langit-langit-1-15x12.webp 15w\" sizes=\"(max-width: 2000px) 100vw, 2000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Deteksi Dini<\/h3>\n\n\n\n<p>Kondisi kelainan bawaan ini bisa dideteksi pada saat trimester awal dalam kandungan, jadi kita bisa melihat dari hasil usg para spesialis kebidanan. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan celah bibir dan langit-langit. Namun para ahli percaya bahwa kondisi ini terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Jadi kondisi celah bibir dan langit langit ini kurang lebih 50% dan 50% dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Disamping itu, memiliki saudara atau orang tua dengan celah bibir atau langit-langit juga berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya bayi dengan celah bibir dan langit-langit. \u201ctutur drg. Muhammad Syaf\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa komplikasi yang mungkin dapat dialami oleh bayi yang menderita celah bibir dan langit-langit adalah gangguan pendengaran, gangguan pertumbuhan gigi, kesulitan mengisap ASI, kesulitan berbicara atau berkomunikasi nantinya. Anak dengan celah bibir dan langit-langit mungkin mengalami masalah dalam emosi, perilaku, dan kehidupan sosial karena penampilannya yang berbeda atau karena berbagai prosedur medis yang harus dilakukan secara berkala.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Celah bibir dan langit-langit memang sulit dicegah karena penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, ibu hamil dapat melakukan beberapa langkah untuk menurunkan risiko terjadinya celah bibir dan langit-langit pada janin, antara lain melakukan pemeriksaan genetik ke dokter jika ada anggota keluarga yang mengalami celah bibir dan langit-langit, melakukan\u00a0pemeriksaan kehamilan\u00a0secara teratur sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter, menjalani gaya hidup sehat selama hamil, seperti mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang serta mengandung asam folat, menjaga berat badan sehingga tidak mengalami obesitas selama kehamilan, tidak merokok, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol, tidak menggunakan obat atau suplemen secara sembarangan tanpa anjuran dokter.<\/p>\n\n\n\n<p>Source: <a href=\"https:\/\/jadwal.perpustakaan.rsabhk.co.id\" title=\"\">drg. Muhammad Syafrudin Hak, Sp.BM(K), MPH, Ph.D<\/a> &#8211; <a href=\"\/en\/\" title=\"\">RSAB Harapan Kita<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu Celah Bibir dan Langit-langit? Celah bibir dan langit-langit adalah kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah pada bibir.\u00a0Celah tersebut bisa muncul di tengah, kanan, atau bagian kiri bibir. Celah bibir dan langit-langit sering kali disertai dengan munculnya celah di langit-langit mulut yang sering disebut dengan langit sumbing.\u00a0Celah bibir dan langit-langit terjadi karena tidak [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":23,"featured_media":11003,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[82],"tags":[],"class_list":["post-505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-kesehatan"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=505"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11004,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/505\/revisions\/11004"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11003"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}